Mengenal Lebih Jauh Tentang Tipografi Dalam Desain Komunikasi Visual
Mengenal Lebih Jauh Tentang Tipografi Dalam Desain Komunikasi Visual - halo sobat abaputra, kali ini saya akan share tentang Mengenal Lebih Jauh Tentang Tipografi Dalam Desain Komunikasi Visual yang disusun oleh Priscilia
Yunita Wijaya. kalo kalian mau ebooknya langsung dari yang buat bisa klik link dibawah ini
Download Ebook (27 Kb)
TIPOGRAFI DALAM DESAIN KOMUNIKASI
VISUAL
Priscilia
Yunita Wijaya
Dosen Jurusan Desain Komunikasi
Visual
Fakultas
Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
ABSTRAK
Di dalam era informasi saat ini kehadiran desain komunikasi
visual sangatlah dibutuhkan. Sesuai dengan namanya, desain komunikasi visual
mempunyai tujuan untuk mengkomunikasikan pesan yang dapat ditangkap oleh massa
dengan benar. Salah satu elemen desain yang sangat penting dalam menunjang
keberhasilan suatu desain dalam berkomunikasi dengan masyarakatnya adalah
tipografi. Tulisan ini membahas bagaimana dan apa peran tipografi tersebut
dalam desain komunikasi visual.
ABSTRACT
The presence of Visual Communication Design is needed
especially in today's information era. Just as its sound, the function and goal
of visual communication design is to communicate to its mass audience with the
right perception. One of its elements that determine the effectiveness of a design
is typography. This paper is going to talk about the role of typography and how
it effects a design in visual communication design.
Kata kunci : tipografi, desain
komunikasi visual
DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
Manusia sebagai mahluk sosial
mempunyai kebutuhan untuk hidup bersama dan
berkomunikasi dengan sesama. Komunikasi tersebut dapat dilaksanakan secara lisan,
visual, atau
gabungan keduanya. Tanda-tanda
lalu lintas, papan
nama jalan, tiket
bis,
majalah, koran, papan reklame,
label, dan lain sebagainya adalah beberapa contoh dari
berbagai bentuk komunikasi secara
visual yang kita temui sehari-hari.
Desain komunikasi
visual adalah sarana
komunikasi untuk menyampaikan
ide,
cerita, konsep, dan informasi
melalui penglihatan. R. Buckminster Fuller, seorang desainer
dan arsitek yang menciptakan geodesic dome, mengatakan bahwa sebuah desain
komunikasi harus dapat memenuhi
kebutuhan masyarakat tidak hanya untuk memuaskan
keinginan daripada desainer tersebut
sendiri. 1 Dengan demikian,
maka sebuah karya desain
1 Labuz,
Ronald, Contemporary Graphic Design, Van Nostrand Reinhold, New York,
1991, hal 121
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain
–Universitas Kristen Petra
|
47
|
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
|
komunikasi visual dapat
dikatakan berhasil apabila ide, cerita, atau informasi yang ingin disampaikan
oleh karya tersebut dapat diterima oleh masyarakat (pengamat) dengan tepat.
Oleh karena itu, seorang desainer komunikasi visual harus dapat mengerti cara
berpikir dan reaksi kebanyakan orang (atau pengamat yang dituju). Persepsi
pengamat lebih dipentingkan daripada persepsi sang desainer.
Pada iklan papan sabun
Lux, pengamat dihadapkan dengan artis yang cantik dan lembut. Tanpa adanya kata
“sabun Lux” atau logotype “Lux” dan keterangan lainnya pada iklan tersebut,
pengamat dapat mengartikannya sebagai iklan promosi bagi sang artis dan bukan
iklan sabun Lux. Contoh lain ialah pada brosur yang banyak ditemui di biro
perjalanan. Tanpa adanya keterangan mengenai tempat rekreasi yang ditawarkan,
tempat pendaftaran, jadwal perjalanan, dan lain-lain maka brosur tersebut dapat
dianggap sebagai kumpulan foto tempat-tempat rekreasi dan tidak membantu
memberikan informasi bagi pengamat.
Pentingnya kesamaan
persepsi antara desainer dan pengamat dalam desain komunikasi visual membuat
tipografi sangat berperan, khususnya dalam bidang penyampaian informasi seperti
dalam brosur, poster, sampul buku, dan lain-lain. Disinilah sebenarnya yang
membedakan desain komunikasi visual dengan seni murni dan desain yang lain;
desain komunikasi visual harus dapat berkomunikasi dengan pengamatnya di dalam
persepsi yang sama.
TIPOGRAFI
Dalam desain
komunikasi visual tipografi dikatakan sebagai ‘visual language’, yang
berarti bahasa yang dapat dilihat. Tipografi adalah salah satu sarana untuk
menterjemahkan kata-kata yang terucap ke halaman yang dapat dibaca. Peran dari
pada tipografi adalah untuk mengkomunikasikan ide atau informasi dari halaman
tersebut ke pengamat. Secara tidak sadar manusia selalu berhubungan dengan
tipografi setiap hari, setiap saat. Pada merek dagang komputer yang kita
gunakan, koran atau majalah yang kita baca, label pakaian yang kita kenakan,
dan masih banyak lagi. Hampir semua hal yang berhubungan dengan desain
komunikasi visual mempunyai unsur tipografi di dalamnya. Kurangnya perhatian
pada tipografi dapat mempengaruhi desain yang indah menjadi kurang atau tidak komunikatif.
48
Jurusan Desain Komunikasi
Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
Untuk membuat desain yang indah
dan berkomunikasi, tipografi tidak dapat dipisahkan dari elemen desain. Dalam
membuat perencanaan suatu karya desain, keberadaan elemen tipografi sudah harus
selalu diperhitungkan karena dapat mempengaruhi
susunan hirarki dan
keseimbangan karya desain tersebut.
Pengertian tipografi yang sebenarnya
adalah ilmu yang mempelajari bentuk huruf;
dimana huruf, angka, tanda baca, dan sebagainya tidak hanya
dilihat sebagai simbol dari suara tetapi terutama dilihat sebagai suatu bentuk
desain. Huruf ‘O’, contohnya, tidak saja
terbaca
sebagai huruf
|
‘O’, tetapi
|
juga terbaca
sebagai bentuk lingkaran
|
yang
|
|||
mempengaruhi bidang suatu karya
desain. Dimana dan bagaimana
|
||||||
O
|
seorang
desainer meletakan huruf ‘O’ tersebut dapat mempengaruhi
|
|||||
legibilitas dan keseimbangan karya
desain tersebut.
|
||||||
Sebagai seorang
visual komunikator, desainer
komunikasi
|
||||||
visual harus
dapat membaca dan mengartikan bentuk atau gambaran.
|
||||||
Dalam perannya
|
sebagai
tipografer, seorang desainer
harus
|
dapat
|
||||
mengetahui
bentuk type yang
bagaimana yang dapat
menunjang arah desain
dan meramalkan reaksi daripada
pengamatnya. Bentuk huruf italic dengan
warna emas, misalnya, sangat baik
untuk digunakan pada sampul buku roman, dan sebaliknya bentuk huruf roman,
san serif, bold,
sangat cocok untuk
poster-
Kasih poster
politik.
Protes
Sejarah Tipografi
Tipografi, sebagai
salah satu metode yang menterjemahkan kata-kata menjadi bentuk atau gambaran
sudah digunakan sejak jaman dahulu. Dimulai sejak awal jaman lukisan di gua (early
cave drawing age), dimana nenek moyang kita menggambarkan pengalaman mereka
di dinding gua. Pada awalnya, yang digunakan adalah pictogram, yaitu
gambar yang mewakili bentuk benda yang dimaksud. Secara perlahan, berdasarkan
asosiasi, beberapa pictogram berubah menjadi ideogram, yaitu simbol yang
bentuknya tidak persis mewakili bentuk yang dimaksud sehingga dapat digunakan
untuk berbagai arti. Ideoram berkembang sehingga mempunyai gaya
penulisan yang tertentu dan mulai mewakili bunyi suara. Karena
berkembangnya peradaban manusia, maka berkembang pula
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain
–Universitas Kristen Petra
|
49
|
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
|
kosa kata dan kepentingan untuk
menyimpan data. Seiring dengan perkembangan tersebut, kecepatan dalam menulis
juga berkembang sehingga bentuk individual simbol juga semakin sederhana dan
abstrak. Pada awal tahun 2800 sebelum Masehi, bangsa Sumaria telah mempunyai
sistem menulis dengan formal, abstrak simbol, yang disebut cuneiform,
yang kemudian menjadi basis daripada modern alphabet yang kita gunakan.
Demikianlah simbol-simbol tersebut terus berkembang dan bertambah sesuai dengan
bunyi suara, dan semakin abstrak bentuknya.
Melalui gerakan
penyebaran kekuasaaan dan agama, bangsa Romawi juga menyebarkan sistem
penulisan terutama untuk menyimpan peristiwa dan ceritera, dimana calligrafi
menjadi populer dan berkembang. Kebutuhan membaca dan menulis juga semakin
meningkat.
Peran tipografer.
Sampai pada jaman
tersebut, tipografi sebagai bidang yang berfokus pada bentuk huruf belum
populer. Perkembangan tipografi mulai menjadi populer dimulai pada abad ke lima
belas dengan ditemukannya sistem pencetakan dengan menggunakan ‘movable type’.
Pada saat yang bersamaan, keinginan dan kemampuan membaca masyarakat juga
meningkat, membuat kebutuhan akan buku, surat kabar, dan lain-lain juga
meningkat. Pada saat inilah profesi tipografer mulai muncul. Fungsi daripada
tipografer pada saat itu adalah mengawasi keseluruhan proses produksi termasuk
di dalamnya pembuatan huruf dan pencetakannya.
Revolusi Industri
membawa pengaruh terhadap kecepatan dan spesialisasi dalam segala bidang.
Sistem percetakan yang tadinya manual berubah menjadi mekanik. Spesialisasi
pekerjaan semakin berkembang, muncul spesialisasi pekerjaan seperti desainer
bentuk huruf (type designer), pengatur huruf (typesetter),
pencetak (printers), dan lain sebagainya. Desainer komunikasi visual dan
tipografer adalah dua profesi yang berbeda, walau fungsinya dalam suatu karya
desain saling terikat. Dalam sebuah karya desain, desainer komunikasi visual
memberikan spesifikasi type yang dia inginkan, dan typesetter akan melakukan
penyusunan type tersebut bagi sang desainer. Segi positif dari spesialisasi
ini, setiap ahli semakin ahli dan bertanggung jawab pada bidangnya. Pada
masa-masa ini dapat dilihat penggunaan type yang lebih memperhatikan keindahan
bentuk huruf.
50
Jurusan Desain Komunikasi
Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
Tehnologi semakin berkembang
sehingga ditemukannya DTP (desktop publishing), yang memberikan
kesempatan bagi para desainer untuk menyusun type sendiri; desainer komunikasi
visual juga berfungsi sebagai tipografer. Segi positifnya adalah pada saat
tersebut terbuka kesempatan untuk bereksperimen dengan huruf dan terbuka
kebebasan menggunakan huruf dengan lebih leluasa.
Pengaruh dari kemajuan
teknologi tersebut membawa dampak pada penggunaan illustrasi dan foto pada
karya desain. Kemampuan mencetak gambar dengan kualitas yang baik membuat
banyak desainer komunikasi visual tergerak untuk menggunakan gambar sebagai
inti dari karya desainnya dan kecenderungan mengesampingkan tipografi. Selain
itu, kemudahan dalam proses produksi desain melahirkan banyak desainer amatir
yang kurang mengerti prinsip-prinsip desain dan pentingnya tipografi. Akibatnya,
banyak kita temui desain sampul majalah, poster, brosur, yang penyusunan
hurufnya tidak sejalan dengan tema dan gambar yang digunakan, sehingga terdapat
kesan bahwa huruf-huruf tersebut asal diletakan saja.
Desain Tipografi
Dalam suatu karya desain, semua
elemen yang ada pada void (ruang tempat elemen-elemen desain disusun)
saling berkaitan. Tipografi sebagai salah satu elemen desain juga mempengaruhi
dan dipengaruhi oleh elemen desain yang lain, serta dapat mempengaruhi keberhasilan
suatu karya desain secara keseluruhan. Penggunaan tipografi dalam desain
komunikasi visual disebut dengan desain tipografi.
Tulisan tangan adalah sederetan
tanda-tanda yang mempunyai arti dan dibuat dengan tangan. Komponen dasar
daripada tipografi adalah huruf (letterform), yang berkembang dari
tulisan tangan (handwriting). Berdasarkan ini, maka dapat disimpulkan
bahwa tipografi adalah sekumpulan tanda-tanda yang mempunyai arti. Penggunaan
tanda-tanda tersebut baru dapat dikatakan sebagai desain tipografi apabila
digunakan dengan mempertimbangkan graphic clarity dan prinsip-prinsip
tipografi yang ada.
Ada empat buah prinsip pokok
tipografi yang sangat mempengaruhi keberhasilan suatu desain tipografi yaitu legibility,
clarity, visibility, dan readibility.
Legibility adalah
kualitas pada huruf yang membuat huruf tersebut dapat terbaca. Dalam
suatu karya desain, dapat terjadi cropping, overlapping, dan lain
sebagainya , yang dapat menyebabkan berkurangnya legibilitas daripada suatu
huruf. Untuk menghindari hal
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain
–Universitas Kristen Petra
|
51
|
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
|
ini, maka seorang desainer
harus mengenal dan mengerti karakter daripada bentuk suatu huruf dengan baik.
Selain itu, penggunaan huruf yang mempunyai karakter yang sama dalam suatu kata
dapat juga menyebabkan kata tersebut tidak terbaca dengan tepat, seperti contoh
di bawah ini.
fail
|
Diambil dari Typographic
Design: Form and Communication
|
tail Huruf 'f', 't', 'j', mempunyai karakteristik yang
sama sehingga ada
jail kemungkinan
terbaca dengan kurang tepat

Diambil dari Typographic Form:
Form and Communication
Apabila menggunakan copping, bagian atas daripada
huruf lebih dapat terbaca daripada bagian atasnya.
Readibility adalah
penggunaan huruf dengan memperhatikan hubungannya dengan huruf yang lain
sehingga terlihat jelas. Dalam menggabungkan huruf dan huruf baik untuk
membentuk suatu kata, kalimat atau tidak harus memperhatikan hubungan antara
huruf yang satu dengan yang lain. Khususnya spasi antar huruf. Jarak antar
huruf tersebut tidak dapat diukur secara matematika, tetapi harus dilihat dan
dirasakan. Ketidak tepatan menggunakan spasi dapat mengurangi kemudahan membaca
suatu keterangan yang membuat informasi yang disampaikan pada suatu desain
komunikasi visual terkesan kurang jelas. Huruf-huruf yang digunakan mungkin
sudah cukup legible, tetapi apabila pembaca merasa cepat capai dan
kurang dapat membaca teks tersebut dengan lancar, maka teks tersebut dapat
dikatakan tidak readible . Pada papan iklan, penggunaan spasi
yang kurang tepat sehingga mengurangi kemudahan pengamat dalam membaca
informasi dapat mengakibatkan pesan yang disampaikan tidak seluruhnya ditangkap
oleh pengamat. Apabila hal ini terjadi, maka dapat dikatakan bahwa karya desain
komunikasi visual tersebut gagal karena kurang komunikatif. Kerapatan dan
kerenggangan teks dalam suatu desain juga dapat mempengaruhi keseimbangan
desain. Teks yang spasinya sangat rapat akan terasa menguasai bidang void
dalam suatu bentuk, sedangkan teks yang berjarak sangat jauh akan terasa lebih
seperti tekstur.
52
Jurusan Desain Komunikasi
Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
Prinsip yang ketiga
adalah Visibility. Yang dimaksud dengan visibility adalah
kemampuan suatu huruf, kata, atau kalimat dalam suatu karya desain komunikasi
visual dapat terbaca dalam jarak baca tertentu. Fonts yang kita gunakan
untuk headline dalam brosur tentunya berbeda dengan yang kita gunakan untuk
papan iklan. Papan iklan harus menggunakan fonts yang cukup besar sehingga
dapat terbaca dari jarak yang tertentu. Setiap karya desain mempunyai suatu
target jarak baca, dan huruf-huruf yang digunakan dalam desain tipografi harus
dapat terbaca dalam jarak tersebut sehingga suatu karya desain dapat
berkomunikasi dengan baik.
Prinsip pokok yang terakhir
adalah clarity , yaitu kemampuan huruf-huruf yang digunakan dalam suatu
karya desain dapat dibaca dan dimengerti oleh target pengamat yang dituju.
Untuk suatu karya desain dapat berkomunikasi dengan pengamatnya, maka informasi
yang disampaikan harus dapat dimengerti oleh pengamat yang dituju. Beberapa
unsur desain yang dapat mempengaruhi clarity adalah, visual hierarchy,
warna, pemilihan type, dan lain-lain.
Keempat prinsip
pokok daripada desain tipografi tersebut di atas mempunyai tujuan utama untuk
memastkan agar informasi yang ingin disampaikan oleh suatu karya desain
komunikasi visual dapat tersampaiakn dengan tepat. Penyampaian informasi tidak
hanya merupakan satu-satunya peran dan digunakannya desain tipografi dalam
desain komunikasi visual. Sebagai seuatu elemen desain, desain tipografi dapat
juga membawa emosi atau berekspressi, menunjukan pergerakan elemen dalam suatu
desain, dan memperkuat arah daripada suatu karya desain seperti juga
desain-desain elemen yang lain. Maka dari itu, banyak kita temui desain
komunikasi visual yang hanya menggunakan tipografi sebagai elemen utamanya,
tanpa objek gambar.
KESIMPULAN
Penggunaan desain tipografi
dalam sebuah karya desain komunikasi visual dapat memperkuat keberhasilan karya
tersebut dalam berkomunikasi, namun dapat juga menjatuhkan kualitas desain
apabila tidak dipergunakan dengan tepat.
Melihat begitu besarnya pengaruh
desain tipografi di dalam suatu karya desain komunikasi visual, maka sangatlah
penting bagi para desainer untuk mengerti tentang tipografi dan bagaimana cara
menggunakannya dalam suatu karya desain dengan baik dan benar.
Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain
–Universitas Kristen Petra
|
53
|
http://puslit.petra.ac.id/journals/design/
|
Kesensitifan
seorang desainer, yang pada waktu menggunakan elemen tipografi juga berfungsi
sebagai seorang tipografer, terhadap bentuk dan penggunaan tipografi sangatlah
diperlukan. Kebebasan dalam menggunakan elemen tipografi, yang melanggar
prinsip pokok dari desain tipografi dapat mengurangi kemampuan sebuah desain
untuk berkomunikasi. Di lain pihak, kehadiran desain tipografi yang tidak
senada dengan image atau gambar dan arah desain yang dituju, meskipun
sesuai dengan prinsip tipografi yang ada juga akan mengganggu keseimbangan
dalam sebuah desain.
Terganggunya
keseimbangan dan kemampuan penyampaian informasi dalam sebuah desain merupakan
dua hal yang sangat fatal. Keseimbangan dan informasi, harus dapat berjalan
bersama. Tanpa adanya keseimbangan dalam karya desain membuat desain tersebut
kurang mutlak dan akan mengganggu pengamatan, sebaliknya sebuah desain yang
indah dan seimbang jugalah tidak dapat dikatakan berhasil apabila pengamat
tidak mampu memperoleh informasi apapun darinya.
Seorang desainer
komunikasi visual harus mampu dan mempunyai kesensitifan dalam mengintegrasi
desain elemen yang lain seperti gambar, warna garis-garis dan lain sebagainya
dengan desain tipografi. Kunci keberhasilan suatu karya desain komunikasi
visual terletak pada kmampuan suatu karya desain menyampaikan informasi dengan
tepat secara kreatif. Tipografi sebagai bentuk visual dari sebuah komunikasi
merupakan sarana penyampaian informasi memegang peranan yang sangat penting
dalam desain komunikasi visual.
KEPUSTAKAAN
Cotton,
Bob, The New Guide to Graphic Design, Oxford, 1990.
Labuz,
Ronald, Contemporary Graphic Design, Van Nostrand Reinhold, New
York,1991.
Rob
carter, Ben Day, Philip Meggs, Typographic Design: Form and Communication,
Van Nostrand Reinhold, New York, 1993.
Carter,
John, Typography 223 A Notes, California State University, Fullerton,
1993.
Abbey,
Norm, Typographic Design Art 50 A Notes, Pasadena City College,
Pasadena, 1992.
Aldrich-Ruenzel,
dan Fennel, Designer's Guide to Typography, Step-By-Step Publishing, New
York, 1991.

0 Response to "Mengenal Lebih Jauh Tentang Tipografi Dalam Desain Komunikasi Visual"
Post a Comment
Berkomentarlah dengan bijak